"Teori di perkuliahan tidak berguna. Percuma mengikuti kelas dalam perkuliahan, terlalu banyak teori. Praktik dalam bekerja beda dengan yang diajarkan di kampus,"
"Belajar itu dimulai dari praktik langsung. Tidak perlu berasal dari teori,"
Sering mendengar pernyataan serupa?
Saya jamin, pasti sering sekali. Bahkan, mungkin ada banyak orang yang setuju dengan pernyataan itu. Meskipun mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju dan tak sepemikiran. To be honest, I used to think like that.
Dulu, saya menganggap remeh jika saya harus belajar teori, apalagi jika dituntut untuk belajar berbagai teori. Saat itu, saya berpikiran bahwa ketika saya bekerja nanti, saya akan mendapatkan tahap on job training, di situlah saya dituntut untuk belajar hal [yang bagi saya] baru dan secara real digunakan dalam menunjang aktivitas saya ketika bekerja. Jadi, saya pikir materi di perkuliahan tidaklah berguna, karena pada akhirnya saya akan mendapat training pada perusahaan dan pekerjaan yang saya tekuni.
Maklum, itu hipotesis saya sebelum saya merasakan lingkungan pekerjaan yang sesungguhnya. Saya hanya mendengar dan membaca dari quotes edgy di timeline, Instagram, etc. Namun, saya beri tahu Anda. Bagi saya, hipotesis saya itu salah. Benar-benar salah.
Bagi saya, teori itu penting. Teori di perkuliahan itu sangatlah berguna.
Sekarang, saya yakin sekali jika ada orang yang berkata bahwa teori tidaklah penting, beliau pasti tidak memahami teori tersebut secara holistik dan komprehensif. Saya rasa, beliau hanya belajar dari soal-soal ujian saja, tetapi tidak memahami konsep dan landasan berpikir dari suatu teori tertentu.
Mengapa saya menulis entry ini? Karena belakangan ini sangat berhubungan dengan artikel yang saya baca dan respon orang tentang pekerjaan saya. Beberapa hari yang lalu, saya membaca artikel di Kompas tentang kemampuan nalar bermatematika siswa di Indonesia yang menurun. Selain itu, saya juga mendapat sindiran, seperti:
"Yaah. SOP [Standar Operasional Prosedur] lagi? Buat apa project itu, Mas? Orang-orang nanti juga ujung-ujungnya menggunakan feeling. Kamu tempelkan semua SOP ke mesin di floor, tidak akan ada yang membaca,"
Nah, dari situ saya berpikir. Berarti memang ada yang salah dengan cara berpikir kita selama ini. Ini saya akan membuktikan jika teori itu sangat berguna. Untuk memudahkan, saya memilih teori yang mudah dipahami, bahkan juga dapat dirasakan dan dilihat dengan kasatmata.
Begini, dulu ketika kuliah, saya belajar tentang 5S.
5S adalah metode yang terdiri dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke. Sekarang, saya merasa bahwa 5S merupakan teori yang berguna dalam proses di lingkungan pekerjaan dan cara kita menjalani kehidupan sehar-hari. Sayangnya, dulu saya menganggap bahwa 5S tidak berguna.
Silakan dibayangkan. Jika Anda menerapkan 5S dalam aktivitas sehari-hari, kehidupan Anda tentu akan berjalan lebih menyenangkan dan mudah.
Anda dapat meringkas, merapikan, membersihkan, merawat, dan menjadikan teori tersebut sebagai irama hidup Anda dalam melakukan hal apa pun.
Contoh, ketika Anda mencari sepatu, dengan mudah Anda dapat menemukannya di rak sepatu karena Anda selalu disiplin dan konsisten untuk menyediakan rak sepatu dan menaruh sepatu pada tempatnya ketika sudah tidak dipakai. Jadi, Anda tidak perlu kerepotan dan menghabiskan waktu untuk mencari letak keberadaan sepatu.
Di atas ini baru satu contoh sederhana sekali, ya.
Bagi Anda yang sudah memiliki irama hidup yang serupa. Selamat, berarti Anda sudah menerapkan teori 5S dan itu memang merupakan sebuah teori yang established.
Sekarang, coba Anda bayangkan penerapan teori 5S di tempat Anda bekerja.
Nah, saya ingin menanyakan dan mematahkan pernyataan orang-orang yang menggangap teori tidak penting.
Apakah keteraturan dan kerapian kita dalam aktivitas sehari-hari lahir dan muncul secara sendirinya dan natural? Mungkin iya.
Tapi, menurut saya, selalu ada teori yang established yang membuat kita melakukan keteraturan dan kerapian sedemikian rupa.
Ini baru satu contoh saja tentang teori 5S. Masih ada berbagai teori lain.
Anda mungkin tidak sadar bahwa penerapan teori memiliki implikasi dan peran secara langsung dalam proses dan aktivitas kehidupan Anda sehari-hari.
Buat saya, ini mematahkan pernyataan bahwa teori tidaklah berguna. Hal ini juga semakin meyakinkan saya bahwa praktik dapat berjalan dari konsep dan teori yang sudah ada.
Saya yakin, pada masa yang sudah educated seperti sekarang ini, segala hal dan fenomena yang terjadi dapat ditelusuri dan berasal dari teori yang sudah ada. Namun, inti pembahasan akan berbeda jika dipikirkan dari perspektif zaman kuno dan awal peradaban dunia
Oke, lalu misalkan saya menanggapi komentar mekanik yang menanyakan project saya.
Beliau berkata bahwa pada akhirnya mekanik akan bekerja dan memperbaiki mesin dari feeling dan pengalaman yang pernah dialami.
Saya tanya, memang asal knowledge dari pengalaman yang dialami itu dari mana? Ketika mengalami kejadian untuk kali pertama, apakah tidak belajar teorinya terlebih dahulu? Jika tidak belajar teorinya, bagaimana bisa menyelesaikan masalah di pengalaman pertama kali itu? Asal pencet, atau asal pasang? Pasti belajar dulu teori dari mesinnya!
Cara memperbaiki mesin yang rusak adalah dengan mempelajari teori mesin tersebut, tentu saja!
Jadi, SOP tentu masih dibutuhkan karena SOP merupakan kumpulan teori, panduan dalam bekerja, dan troubleshooting. Mungkin, orang-orang tidak paham saja sebenarnya fungsi SOP itu untuk apa.
Asumsi saya, ada beberapa alasan mengapa banyak orang salah dalam menilik sebuah teori yang diajarkan di kelas.
Mungkin, banyak orang belajar langsung ke contoh soal-soal yang diberikan dosen. Mereka hanya melihat contoh soal-soal tahun lalu, dan mungkin memang soal-soal yang keluar di ujian hanya seputar itu-itu saja. Oleh sebab itu, jadi mereka tidak memahami teori secara utuh karena merasa tidak membutuhkannya. Tujuan belajar hanya untuk dapat menyelesaikan soal dan lulus ujian.
Ketika konsep saja tidak dipahami dengan benar, tentu ketika tipe soal diubah, mereka akan kebingungan.
Mengapa? Karena mereka tidak paham fundamental konsepnya. Mereka hanya paham pada contoh soal-soal yang sekiranya keluar di ujian saja.
Sama seperti artikel di Kompas. Mungkin banyak orang beranggapan bahwa matematika hanya tentang penjumlahan. Padahal, kan tidak.
Jika Anda setuju dengan pendapat saya, menurut Anda, apa penyebab dari banyaknya orang yang memiliki cara berpikir yang salah? Saya punya hipotesisnya. Tapi, akan saya bahas pada artikel selanjutnya saja.
Tolong, silakan sanggah saya jika Anda tak setuju dengan pendapat saya.
Terima kasih!
[ps: entry ini adalah versi Bahasa Indonesia dari post saya di LinkedIn]
[ps: entry ini adalah versi Bahasa Indonesia dari post saya di LinkedIn]
Comments
Post a Comment