Skip to main content

Posts

Terasa Tanpa Kasatmata

Apa yang Anda rasakan ketika pada suatu pagi hari, Anda membuka mata dan mengambil telepon genggam, lalu Anda mendapati sebuah kabar yang menggembirakan? Kabar itu tidak pernah Anda harapkan, terlalu jauh jika berbicara terkait sesuatu yang diharapkan, bahkan jika dibayangkan saja belum pernah. Namun, ternyata kabar itu nyata, and it was real . Merespons dari kabar gembira tersebut, Anda mungkin  rethink tentang hal apa saja yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, atau mungkin melakukan cocoklogi / mix-match  yang sebenarnya kita sama tidak tahu apakah memang berkorelasi erat atau tidak. Lalu Anda pun teringat dengan kata orang: The More You Give, The More You Get . Tidak ada yang tahu apakah kata orang tersebut memiliki bukti yang empiris. Saya merasakannya, namun saya tak mampu melihatnya. 

Mempersilakan Diri Sendiri untuk Menjadi Lelah

Cerita hari ini. Sudah hampir genap satu setengah tahun ini, pandemi Covid-19 melanda negara saya, negara Indonesia. Pandemi kali ini merupakan hal yang baru, atau setidaknya bagi orang-orang dari masa generasi yang sama dengan saya saat ini. Jika saya memberikan kilas balik dan merunut ke belakang; dari bulan Maret di tahun 2020, saya masih ingat dengan suasana jemu dan kagetnya akan mekanisme work from home , saya juga masih ingat dengan trend  lagu pengiring dan tarian dari aplikasi TikTok, saya pun masih ingat dengan beragam fenomena baru lainnya, seperti halnya  mengocok dalgona coffee . Lalu, sampai satu setengah tahun setelahnya, atau sampai dengan saat ini, saya sudah sangat terbiasa dengan mekanisme  work from home; sekarang saya sudah lebih kerasan untuk berada di dalam rumah selama berhari-hari tanpa complaint  atau pun  ngedumel  karena ingin bertemu dengan orang lain. Saya menyadari bahwa saya sudah melalui banyak staging dan juga sudah adaptif...

Ini "Lapak" tentang Berbicara Bebas

Kerusuhan di Gedung Capitol Amerika Serikat yang disebabkan oleh pendukung Donald Trump pada Rabu (6/1/2021) siang waktu setempat merupakan preseden yang buruk bagi sejarah perjalanan demokrasi di Amerika Serikat (AS). Peristiwa tersebut menimbulkan reaksi yang muncul, tidak hanya dari tokoh-tokoh di AS, namun juga dari tokoh lain seluruh dunia. Beberapa tokoh Partai Republik pun turut mengecam kerusuhan tersebut, termasuk juga Mike Pence yang menghendaki kerusuhan di Capitol tidak terjadi dan massa pendukung dapat menghormati proses demokrasi yang sedang berlangsung. Kerusuhan yang terjadi ini pun menjadi bahan cibiran oleh musuh AS seperti Hassan Rouhani yang mengatakan betapa rapuh dan rentannya demokrasi Barat. Tidak hanya beragam reaksi tersebut, Facebook dan Twitter bahkan sampai melakukan pemblokiran terhadap akun Presiden Donald Trump. Sebelum kerusuhan terjadi, Trump disinyalir melakukan provokasi ke massa pendukungnya untuk menolak hasil pemilu AS yang memenangkan Joe Biden s...

Bebal

Saya memohon maaf sebelumnya. Dengan terang, saya menjelaskan bahwa saya tak memiliki atensi untuk menyinggung dan membahas tentang sesuatu dan siapa. Tulisan yang Anda baca di sini tidak memiliki intensi untuk menuduh, menyerang, dan mencemarkan orang lain seperti yang tertuang dalam Pasal 310. Namun, tidak ada salahnya juga bagi saya untuk menuliskan dan menceritakan sedikit saja perihal apa yang saya rasakan belakangan ini. Sedikit kekesalan. Tulisan saya di bawah ini masih seputar pandemi Covid-19; yang ternyata tidak kunjung selesai menjadi bahasan hangat di kuping saya selama lebih dari enam puluh (60) hari. Bagi Anda yang sedang membaca tulisan ini; terutama bagi Anda yang tinggal di seputaran Jakarta, Covid-19 sudah menjadi santapan awal, tengah, dan akhir dari sebuah perhelatan panjang di setiap bagian percakapan [dalam]  meeting kantor; sejak saya mulai memelekkan mata usai terbangun dari tidur, hingga saat saya hendak memejamkan mata, publik seakan tidak pe...

Sajak Work from Home Akibat Pandemik

Sejak akhir tahun 2019, berita dan artikel terkait penyebaran virus ini sudah santer dikabarkan oleh media asing (meskipun belum ramai di media-media kelas atas  di Indonesia). Sampai pada akhirnya, penyebaran virus ini bersifat pandemik, tersebar luar secara cepat dan masif, sampai ke beragam wilayah di dunia. Tentu saja, hal itu mengubah segala hal dan existing activities yang ada di belahan dunia mana pun yang terkena dampak akibat pandemik ini. Tidak berbeda dengan negara Indonesia, khususnya terkait tentang mekanisme dan aktivitas bekerja. Terhitung sudah hampir mencapai enam puluh (60) hari lamanya, saya berada di kondisi dan mekanisme kerja dalam bentuk  work from home (WFH). Perhitungan itu dihitung mundur dari pertengahan bulan Maret, tepat tujuh (7) hari sebelum saya melakukan uji presentasi akhir saya sebagai pegawai trainee di salah satu perusahaan swasta di bilangan Jakarta Timur. Kali pertama saya mendengar bahwa mekanisme kerja WFH akan diberlakukan d...